TAFSIR SURAT AL-FATIHAH Ayat Pertama

TAFSIR SURAT AL-FATIHAH
Ayat Pertama:

“بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ”
Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.”

Tafsir ayat ini sudah dipaparkan ketika kita membahas tentang basmalah, silahkan bisa dirujuk di Silsilah Materi Kajian Tafsir No: 5 (Pembahasan ini menyusul insya Allah -admin).

Ayat Kedua:

“الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”
Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”

___________________________________

“الْحَمْدُ للّهِ”
• Makna al-hamdu

Dalam bahasa Arab, kata al-hamdu berarti: pujian yang sempurna [Al-Muharrar al-Wajîzkarya Ibn ‘Athiyyah (I/66) dan Tafsîr al-Qurthubi (I/205)]. Fungsi penambahan huruf alif danlam dalam kata ini adalah untuk menunjukkan adanya makna istighrâq (pencakupan segala jenis pujian). Jadi, hanya Allah jalla wa ‘azza sajalah yang berhak mendapatkan segala jenis pujian; sebab Dialah pemilik nama-nama yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji [Lihat: Tafsîr ath-Thabari (I/138), Tafsîr al-Qurthubi (I/205), ad-Dur al-Mashûn karya as-Samîn al-Halabi (I/37), Tafsîr Ibn Katsîr (I/131), Tafsîr Sûrah al-Fâtihah (hal 39) dan Adhwâ’ al-Bayân karya asy-Syinqîthi (I/47)].

Karenanya, kita dapatkan bahwa di antara redaksi doa yang dipanjatkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ”.

Ya Allah, milik-Mu-lah pujian seluruhnya.” [H.R. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim].

Kata al-hamdu bukanlah sembarang pujian, namun merupakan pujian yang diiringi pengagungan dan rasa cinta terhadap yang dipuji. Kita mengagungkan Allah karena kesempurnaan dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Dan kita juga mencintai Allah, sebab limpahan kenikmatan-Nya yang tak terhitung jumlahnya.

Adapun pujian yang kosong dari pengagungan dan rasa cinta, tidaklah dinamakan al-hamdu, namun dinamakan al-mad-hu (sanjungan). Terkadang kita dapatkan ada yang menyanjung orang lain, dan motifnya adalah: harapan untuk mendapatkan harta duniawi dari yang disanjungnya. Seperti peminta-minta yang menyanjung orang kaya supaya diberi uang, atau bawahan yang berkarakter ABS (Asal Babe Seneng), yang selalu menyanjung-nyanjung atasannya karena mengincar kenaikan pangkat atau penambahan gaji. Ada pula yang menyanjung orang lain, dikarenakan rasa takut akan kelalimannya. Seperti para penyair yang menyampaikan puisi-puisi pujian di hadapan para penguasa; karena khawatir jika tidak melakukannya akan disiksa oleh mereka. Semua sanjungan di atas tidak dinamakan al-hamdu.

Sedangkan pujian seorang mukmin kepada Allah, maka pujian yang diiringi pengagungan dan rasa cinta [Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma, oleh Syaikh Ibn ‘Utsaimîn (hal. 14)].

 Mengapa kita memuji Allah?

Ketika menjelaskan makna kalimat alhamdulillâh Imam ath-Thabari (w. 310 H) memaparkan mengapa kita harus memuji Allah tabaraka wa ta’ala, “Makna alhamdulillâh adalah: syukur murni hanya untuk Allah, bukan untuk sesembahan lain-Nya atau makhluk-Nya. Sebab Allah telah melimpahkan kepada para hamba-Nya kenikmatan yang tidak mungkin terhitung jumlahnya. Dia telah mencurahkan rezeki duniawi, serta kenikmatan hidup padahal Allah tidaklah berkewajiban melakukan itu semua. Dia juga telah menyehatkan tubuh kita sehingga kita mudah untuk melakukan ketaatan pada-Nya dan menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Bukan hanya itu, Allah juga mengajak dan memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang mengantarkan kepada kekekalan di kampung keabadian; surga-Nya. Maka hanya Allahlah yang berhak mendapatkan segala pujian di awal dan di akhir.” [Tafsîr ath-Thabari(I/135)].

• Kemampuan untuk memuji Allah adalah nikmat

Pujian seorang hamba terhadap Rabb-nya merupakan salah satu nikmat Allah paling besar untuk para hamba-Nya. Bahkan, nikmat tersebut lebih besar dibandingkan nikmat-nikmat Allah lainnya, seperti rezeki, keselamatan, kesehatan, tempat tinggal, keturunan dan yang semisal berupa kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya [Lihat: Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr,karya Syaikh Abdurrazzâq al-Badr (I/256)]. Sebagaimana diisyaratkan dalam sabda Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,

“مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ”.

Andaikan setiap hamba mendapatkan kenikmatan dari Allah, ia mengucapkan alhamdulillâh; niscaya apa yang ia berikan (berupa pujian terhadap Allah) lebih utama dibandingkan apa yang ia terima (berupa kenikmatan Allah tersebut).” [H.R. Ibn Majah dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani].

Andaikan ucapan kita alhamdulillâh merupakan nikmat dari Allah, bahkan merupakan kenikmatan yang paling besar, berarti ini pun menuntut kita untuk memuji Allah atas kenikmatan besar yang dilimpahkan-Nya tersebut.

Bakr bin Abdullah al-Muzani (w. 106 H) berkata,

“ماَ قَالَ عَبْدٌ قَطّ: الْحَمْدُ للهِ؛ إِلاَّ وَجَبَتْ عَلَيْهِ نِعْمَةٌ بِقَوْلِهِ الْحَمْدُ للهِ، فَمَا جَزَاءُ تِلْكَ النِّعْمَةِ؟ جَزَاؤُهَا أَنْ يَقُوْلَ: الْحَمْدُ للهِ، فَحَازَ أُخْرَى، وَلاَ تَنْفَدُ نِعَمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ”.

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan alhamdulillâh melainkan itu dianggap sebagai suatu kenikmatan untuknya. Lantas bagaimanakah kita membalas kenikmatan tersebut? Balasannya adalah dengan mengucapkan kembali alhamdulillâh. Sehingga ia mendapatkan kenikmatan kembali. Dan kenikmatan Allah tidak ada habisnya.” [Diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dun-ya dalam asy-Syukr (hal. 17)].

Semoga Allah ta’ala berkenan membantu kita untuk senantiasa memuji-Nya, amien.

• Allah memuji diri-Nya sendiri dan melarang para hamba-Nya untuk memuji diri mereka sendiri

Imam Ibn al-’Arabi (w. 543 H) menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah memuji diri-Nya dan memulai kitab suci-Nya dengan pujian terhadap-Nya. Namun, Dia tidak mengizinkan para hamba-Nya untuk memuji diri sendiri, bahkan dalam al-Quran Allah melarang kita untuk melakukan tindakan tersebut, sebagaimana dalam firman-Nya,

“فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى”.

Artinya: “Janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).

Allah ta’ala juga melarang untuk mendengarkan dan ‘ge er‘ dengan pujian orang lain pada kita, serta memerintahkan kita untuk menolak pujian tersebut. Sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“إِذَا رَأَيْتُمْ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمْ التُّرَابَ”.

Artinya: “Andaikan kalian melihat orang-orang yang suka memuji; maka tebarkanlah debu di muka mereka.” [Dalam Tafsîr-nya (VI/409), Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa para pemuji yang dicela dalam hadits di atas adalah: mereka yang memuji orang lain di hadapannya, dengan pujian yang pada hakikatnya tidak ada dalam diri yang dipujinya, dengan tujuan meraup kepentingan duniawi darinya, atau menjerumuskannya ke dalam sifat sombong. Adapun memuji orang lain lantaran adanya sifat-sifat terpuji dalam dirinya, dengan tujuan untuk memotivasi agar meneruskan sifat terpuji tersebut, juga memberi semangat pada orang lain agar mencontohnya; maka ini tidak tercela. Itu semua kembali kepada niat masing-masing. “Allah mengetahui siapa yang berbuat kerusakan dan siapa yang berbuat kebaikan“. QS. Al-Baqarah: 220]. (H.R. Muslim dari al-Miqdâd).

Mengapa Allah memuji diri-Nya dan melarang para hamba-Nya untuk memuji diri sendiri? Ada tiga jawaban yang disebutkan para ulama:

1. Sebagaimana telah maklum bahwa dalam agama Islam, kita diperintahkan untuk memuji Allah. Bagaimana cara memuji-Nya? Di ayat inilah Allah mengajari kita cara memuji-Nya; yaitu dengan mengucapkan “alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn“. Jadi Allah memuji diri-Nya dengan tujuan mengajari kita bagaimana cara kita memuji-Nya.

2. Ayat tersebut sebenarnya bermakna perintah dari Allah kepada para hamba-Nya untuk memuji-Nya. Sehingga makna ayat tersebut adalah: “Ucapkanlah alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn!”.

3. Memuji diri sendiri terlarang karena menyebabkan tumbuhnya kesombongan dalam jiwa, padahal para hamba adalah makhluk yang lemah dari segala sisinya, sehingga tidak berhak untuk sombong sama sekali. Adapun Allah ta’ala, Dia adalah dzat yang berhak memperoleh segala macam bentuk pujian; karena Dia memiliki kesempurnaan dari segala sisi [Lihat:Ahkâm al-Qur’ân (I/24-25) dan periksa pula: Tafsîr ath-Thabari (I/139), serta Tafsîr al-Qurthubi (I/207-209)].

===

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.

Categories: Artikel | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: